Kamis, 27 Desember 2012

Kelestarian Sumber Air


“Perang masa depan tidak akan dipicu oleh perebutan emas hitam (minyak) melainkan oleh perebutan emas biru (air)”, kalimat itu keluar dari mulut mantan Wakil Presiden Bank Dunia, Ismail Seregeldin dalam sebuah forum air sedunia.air
P
embaca tak perlu mengernyitkan dahi, karena faktanya air yang sehat ini telah menjadi kebutuhan vital dalam kehidupan manusia. Tanpa air, kehidupan di muka bumi akan punah. Bahkan, indikator pencarian planet baru yang bisa dikatakan layak huni adalah ketika terdapat sumber air yang bisa menghidupi seluruh jenis makhluk yang menempati planet tersebut. Hal ini sudah sangat jelas menunjukkan air sebagai sesuatu yang harus dimiliki dan merupakan sumber kehidupan.
Air yang memiliki nama lain dihidrogen monoksida adalah zat atau unsur yang terpenting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air yang volumenya mencapai 1,4 triliun kilometer kubik  (330 juta mil3) ternyata menutupi lebih dari 2/3 permukaan bumi kita.
Materi yang sering disebut sebagai pelarut universal ini pun (karena melarutkan banyak zat kimia) ternyata sudah akrab dengan manusia dalam membangun peradaban dunia, misalnya Mesopotamia (yang disebut sebagai sumber peradaban dunia) berada di antara Sungai Tigris dan Euphrates. Begitu juga dengan Mesir Kuno yang merupakan hadiah dari Sungai Nil, serta pusat-pusat manusia besar lainnya seperti: Rotterdam, London, Montreal, Paris, New York City, Shanghai, Tokyo, maupun Chicago yang mendapatkan kejayaannya (salah satunya) berkat akses ke perairan yang mudah.
Selain sebagai salah satu faktor yang ikut mendorong perkembangan peradaban dunia, ternyata air sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Faktanya, tubuh manusia yang terdiri dari 78% air, serta sistem saraf pusat manusia (otak) yang terdiri dari 90% air membutuhkan suplai air sekitar 2 liter perhari pada umumnya (tergantung kondisi fisik masing-masing individu).
Dunia seni pun telah lama berkenalan dengan unsur yang memiliki nama sistematis aqua ini, di sini air dipelajari dengan cara yang berbeda, ia disajikan sebagai suatu elemen langsung, tidak langsung atau pun hanya sebagai simbol. Kini berkat dukungan kemajuan teknologi, fungsi dan pemanfaatan air dalam seni mulai berubah, dari tadinya pelengkap ia mulai merambat jadi objek utama. Contoh seni terakhir ini misalnya adalah seni aliran/ tetesan air (sculpture liquid atau droplet art) yang merupakan sebuah antologi yang telah mendunia karya Martin Waugh.
Tak habis sampai di situ, pemanfaatan air secara konvensional untuk kebutuhan futuristik telah direncanakan dengan matang oleh manusia, sebut saja perencanaan air sebagai bahan bakar alternatif yang didukung oleh penemuan HHO Electrolyzer oleh Nikola Tesla atau pun konsep tempat tinggal manusia masa depan yang berbasiskan air, antara lain: Underwater City, Aero Hotel, Lilypad, Waterpod serta Hydropolis Underwater Hotel.
Berkaca pada firman Tuhan pun (Alquran dan Alkitab) kita akan menemukan peranan air yang sangat dahsyat bagi kehidupan manusia yang memiliki fungsi menghidupkan sekaligus fungsi mematikan (Surat Huud: 6-7 dan Kejadian 6: 7).
Namun, di tengah eksistensinya yang kian berjaya, kita generasi penerus dihadapkan pada masalah klise tentang “Sulitnya Mendapatkan Air Bersih”, padahal kita hidup di negara Indonesia, yang notabene adalah negara yang pernah menduduki peringkat ke-5 negara paling kaya air sedunia dengan curah hujan yang mencapai 2.779 milimeter per tahun (menurut data Kementrian Lingkungan Hidup 2008).
Kini, upaya penyelamatan air pun telah menyeruak di seluruh belahan dunia, meskipun riaknya berbeda tapi mereka menginginkan satu hal yang sama. Oleh karena itu, mari peliharalah dan perhematlah penggunaan air selagi masih bisa tercukupi segala kebutuhan kita. Ingat ini adalah demi masa depan kita, demi pembangunan bangsa yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar